Tampilkan postingan dengan label Destinasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Destinasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 07, 2016

Pagi cerah dengan sengatan matahari, saya kian asyik foto manuskrip (naskah) di Perpustakaan Universitas Leiden tak terasa sudah menunjukkan jam satu lewat. Hari itu hari Jum'at. Ini merupakan Jum'at pertama bagi saya di Leiden khususnya, di negeri yang penuh sepeda. Sebagaimana waktu shalat di Jerman, saya bergegas menuju mesjid di kampung Leiden ini.

Sebelum melangkah ke mesjid, saya sejenak menggunakan google map untuk mencari mesjid terdekat dengan kampus Leiden. Sekitar 4 mesjid terdeteksi oleh sistem nomor wahid ini. Saya memilih masjid terdekat mengingat kerjaan di perpustakaan Leiden harus saya selesaikan segera. Masjid (Belanda: Moskee) al-Hijrah adalah pilihan tepat, hanya 6-7 menit jalan kaki, berseberangan jalan dengan Perpustakaan Leiden atau juga berderetan dengan gedung KITLV. Sebuah lembaga yang megah di Aceh dan Indonesia atas konstribusinya mendigital buku-buku langka era kolonial Belanda.

Setelah mendapat titik lokasi mesjid, saya wudhu di kamar mandi perpustakaan. Dalam asumsi saya seperti di Jerman akan banyak antri di tempat wudhu' masjid. Kemudian saya menuju ke Masjid al-Hijrah, tiba lebih awal, awalnya saya pikir banyak shaf kosong, ternyata mesjid ini memiliki beberapa tingkat. Beberapa jamaah duduk bersandar sambil membaca al-Quran, ini sebuah kebiasaan yang baik saya dapatkan di sini, bahkan di hampir seluruh Eropa. Sepatutnya tradisi membaca Quran di masjid digalakkan dan membuang kebiasaan bicara yang tidak penting di dalam mesjid atau bahkan asyik "poh cakra" di luar mesjid saat Jumat berlangsung hingga khatib membaca rukun khutbah.

Gedung Mesjid al-Hijrah ini berada di deratan dengan gedung lain, sekilas tidak tampak mesjid, tidak ada kubah, tidak ada toa di luar, kecuali di atas pintu utama tertampang tulisan "Moskee al-Hijra" dan dalam tulisan Arab  مسجد الهجرة. Masjid ini tiga tingkat (atau disebut tingkat dasar dan tingkat 1-2). Pada tingkat pertama digunakan tempat utama dimana mimbar dan khatib berkhutbah. Di sini juga aktivitas berlangsung seperti pengajian, pengumuman dan lainnya. 

Di tingkat pertama ini juga terdapat banyak al-Qur'an dan terjemahan dalam beragam bahasa, baik dari negara-negara di Asia, Afrika atau Eropa. Qur'an-qur'an tersebut merupakan hibah dari jamaah muslim yang tiba di sini, saya tidak tahu bagaimana prosesnya, namun kemungkinan besar merupakan hibah mahasiswa muslim yang pernah berada di Leiden.

Selain itu, bagi saya juga menarik lemari kaca dalam ukuran besar yang memuat beragam kitab Islam, mulai dari kitab-kitab tafsir, hadist, fiqih, ushul fiqh, dan buku-buku Islam lainnya yang terkenal. Kitab ini dapat dibaca ditempat, tidak ada kunci untuk menutup seseorang untuk membaca kitab-kitab tersebut. Hal ini menunjukkan tradisi baca sangat kuat sekali di Leiden, sehingga mesjid-mesjid sekecil ini menyediakan beberapa referensi primer keilmuan Islam. 

Memasuki shalat Jum'at, sang muazzin mengumandangkan azan. Sang khatib yang sudah berumur naik ke mimbar melalui depan jamaah. Mimbar tersebut terbuka depan dengan 3 anak tangga, cukup sederhana. Dengan dua tiang kiri dan kanan pintu dan gapura di depan mengikuti mimbar Nabi Muhammad. Sang khatib tidak pegang tongkat, ia memegang kertas teks yang berisikan khutbahnya \disampaikan sepenuhnya dalam bahasa Arab. Jika mendengar dari bacaan bahasa Arab fushahnya, ia berasal dari Arab Timur Tengah, perkembangan Islam yang menarik yang biasanya mayoritas oleh para muslim Turki dan Albania.

Khutbahnya sangat panjang sekali, ia hampir berdiri di atas mimbar lebih dari 30 menit. Usai dua rukun khutbah dan sebelum muazzin iqamah untuk menunaikan shalat Jum'at, maka seorang yang masih muda tanpa peci dengan baju biasa dan jaket bangun di depan jamaah dan berceramah dalam bahasa Belanda. Ia merupakan penerjemah ke dalam bahasa Belanda dan sekaligus menyimpulkan ceramah dari sang khatib untuk orang-orang (jamaah) yang tidak paham bahasa Arab. Maka proses shalat Jumat dilakukan dari awal sampai akhir hampir satu jam penuh. 

Tradisi ini juga pernah saya jumpai di Jerman, saat shalat Jumat di Mesjid Afrika dan atau Jumat di Mesjid Albania di Hamburg. Hanya berbeda teknis pelaksanaannya. di Mesjid al-Hijra Leiden terjemahan disampaikan setelah usai semua rukun dua khutbah dan sebelum muazzin mengumandangkan iqamah. 

Di penghujung isi khutbah sang khatib, selain mengajak para muslim untuk berhijrah ke arah yang baik sebagai tanda masuknya bulan Muharram sebagai awal tahun baru dalam Islam, juga mengajak bersama-sama membangun Mesjid baru dan Islamic center yang sedang dalam tahap pembangunan. Demikian imbauan sang penerjemah dalam bahasa Belanda kepada jamaah yang kurang paham bahasa Arab, berhijrah kepada yang lebih baik.  

  

Jumat di Masjid Leiden

Read More

Sabtu, Januari 23, 2016


"Jumat di Mesjid Albania" adalah shalat Jumat di mesjid yang menggunakan  bahasa Albania sebagai ceramah dalam khutbahnya. Keberadaan mesjid ini berbatasan langsung dengan Mesjid Arab, dan Mesjid Pakistan-Indonesia. Mesjid Albania berada di lantai dasar sederet dengan Mesjid Pakistan-Indonesia, sedangkan Mesjid Arab berada di lantah bawah Mesjid Albania.

Kedua pintu masuk mesjid ini sangat berdekatan, yang diselangi sebuah toko Turki/Albania yang menjual beragam khas Muslim (baju, sajadah, parfum, tasbih, buku) hingga alat elektronik seperti Hp.

Usai Shalat Jumat, 2016
Biasanya, jamaah-jamaah yang shalat di Mesjid Arab akan wudhu (tung ie seumbahyang) ke Mesjid Albania, sebab tempat wudhu di Mesjid Arab terlalu kecil daripada di Mesjid Albania yang berada di dalam gedung di lantai bawah. Sehingga setelah wudhu mereka akan keluar lagi menuju Mesjid Arab. Tidak ada perbedaan antara sesama muslim, mereka saling menerima satu dengan lainnya. Setiap Muslim (jamaah) pun dapat memilih mesjid mana yang mereka inginkan untuk shalat Jumat.

Tata tertib shalat Jumat di Mesjid Albania dimula dengan ceramah (pengajian) dalam bahasa Arab. Sang penceramah duduk di atas podium (bukan Mimbar). Dia menjelaskan (syarah) isi kitab tentang tema-tema tertentu. Menjelang masuk waktu shalat Jum'at, pengajian ceramah selesai.

Sang Muazzin mengumandangkan azan pertama. dan kemudian mengajak Jamaah shalat Sunnah Qabliyah. Sesaat usai shalat Sunnah, sang Khatib naik atas mimbar dari arah Jamaah, seperti mimbar di Madinah dan umumnya negara Islam. Masih menghadap kiblat di atas mimbar sang Khatib membaca do'a sambil mengangkat tangan. Usai membaca doa atas mimbar atau sebelum khatib, kemudian ia membalikkan badan menghadap ke Jamaah dan kemudian duduk, tanpa mengucapkan salam. Tata cara itu juga sama dilakukan oleh Khatib di Mesjid Turki. Disusul kemudian Muazzin mengumandang azan ke dua.

Mimbar Jumat cuma lima anak tangga yang menghadap ke Jamaah, sehingga setiap khatib yang naik atas Mimbar melalui Jamaah. Mimbar yang sama juga di Mesjid Turki, Mesjid Arab, dan Mesjid Pakistan-Indonesia. Hampir semua mimbar memiliki model seperti ini mengikuti mimbar Nabi di Madinah, dan itu sesuai anjurannya. Di Atas mimbar tersebut, sang khatib tidak memegan tongkat, dan tidak disediakan tongkat.

Di Hamburg Jerman, sepertinya masih sulit membedakan orang-orang Albania dengan Turki dan kawasan sekitarnya. Paras wajah dan postur tubuh orang-orang  Albania secara umum sama dan hampir mengikuti Turki. Mungkin saja ini karena Albania pernah berada lama di bawah kekuasaan Ottoman Turki yang sebagian besar kemudian menetap di sana.

baca: Jumat di Turki

Albania adalah sebuah negara yang terletak di Eropa bagian Tenggara. Albania berbatasan dengan Montenegro di sebelah Utara, Serbia (Kosovo) di Timur Laut, Republik Makedonia di Timur, dan Yunani (Greece) di Selatan.
Apabila melihat posisi  geografis negara Albania, maka dapat dipasikan sangat strategis karena berada di perbatasa laut Italia memasuki kawasan Eropa sebelah Timur. Ia juga salah satu negara terbesar dengan negara-negara sekitarnya seperti Kosovo, Macedonia, Montenegro, bahkan dengan Italia. Namun sayangnya, negara ini jatuh dalam "konkalikong skema Piramida" dan perang yang berkepanjangan sehingga membuat negara ini miskin. Negara-negara kuat di Eropa sebaliknya memanfaatkan negara yang "bodoh akibat perang" dalam merekrut kekayaan dan penguasaan ekonomi berdalih bantuan IMF dan lainnya.

Albania adalah salah satu negara di Eropa (pengeculian Turki yang adalah negara lintas benua) yang mayoritas penduduknya beragama Islam selain Bosnia, Herzegovina dan Kosovo. Walau begitu, menurut penelitian tahun 2010, Albania adalah salah satu negara yang paling tidak beriman di dunia; hanya 39% dari jumlah populasi yang menganggap agama memainkan peran penting dalam kehidupan mereka. Hal ini disebabkan karena setelah berdiri atas Kerajaan (1272), kemerdakan dari Kesultanan Usmaniyah (1912), dan Negara Republik (1928) (1946) (1976) (1991). Dari tahun 1912 hingga 1945 tidak menetapkan agama resmi dan melemahkan peran ulama dan klerus dalam kehidupan sehari-hari.


Singkatnya, perang dan konflik politik-agama yang berkepanjangan menjadikan negeri ini miskin. Tahun 1190 berdiri jadi Negara Kerajaan. Abad ke-14 M direbut oleh Turki hingga akhir abad 19. Lepas dari otoritas Ottoman Turki, menjadi negara Republik 1925 dan berubah lagi menjadi Kerajaan (1928). Era PD II menjadi rebutan negara adikuasa. Negara yang letaknya sangat strategis dicaplok oleh Italia 1939-1943, kemudian diambil alih oleh Jerman. Status merdeka diperoleh lagi jadi negara Republik (1946) dan rakyat Sosialis (1976).

Sejak tahun 1945 tidak menetapkan agama resmi dan melemahkan peran ulama dan klerus dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan negara Komunis dan pernah mendeklarasikan "negara ateis" pertama di dunia. Walaupun populasi muslim terbesar di Eropa bagian Tenggara.

Walau sudah berada di bawah PBB tahun 1990an, iklim ekonomi, politik dan agama tidak pernah akur. Tahun 1998 jadi tahun bersejarah referendum besar. Terlanjur, negeri yang telah berada dalam "skema Piramida" dan mainan IMF dan jadi makanan empuk negara kapitalis. Belum ada negara-negara super power yang membantu "ikhlas" negara-negara miskin akibat perang, kecuali dalam iming-iming penjajahan dan penguasaan. Dan itu yang terjadi di kawasan-kawasan mayoritas Muslim.

(Hamburg, 22 Januari 2016)

Jum'at di Albania

Read More

Selasa, Januari 12, 2016


Namun demikian, ketakjuban saya pada anak-anak Aceh yang lahir di negeri tersebut tidak membuat mereka lupa pada bahasa indatunya, padahal mereka sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di Aceh. Mereka mampu berbahasa Aceh dengan fasih melebihi anak Aceh di kota-kota di Aceh. Selain bahasa Aceh yang “meu-Aceh” juga belajar bahasa Denmark dan bahasa Inggris.

Selain itu, acara kenduri maulid Nabi juga menjadi istimewa sebab makanan yang disajikan seluruhnya khas citarasa Aceh, mulai dari makanan ringan hingga asoe hidang kenduri. Ini mengingatkan saya setelah sekian lama tidak menikmati makanan khas Aceh selama berada di Jerman.

Tahun ini, Maulid Nabi diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 11 tahun gempa tsunami Aceh. Usai acara maulid dilanjutkan samadiyah dan doa kepada para syuhada Aceh dan lainnya pada bencana akbar tersebut.

Pada musim dingin, waktu malam lebih awal dan lebih lama daripada siang. Di dalam Meunasah Aceh tersebut, para pemuda dan masyarakat Aceh terus melantunkan dalae-dalae Maulid Nabi, tidak hanya dalam bahasa Arab, tetapi juga dalam bahasa Aceh.

Jamaah Meunasah Aceh baca Dalae Khairat "Berjanzi" saat Maulid Nabi, 1437 H/ 2015 M
Sehari penuh saya berada di sini, sepertinya sedang berada di “Gampong Aceh” Eropa, berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai daerah di Aceh dengan cuaca dingin bersalju. Tidak berlebihan jika masyarakat Aceh di Negara-negara Eropa ingin menikmati Maulid Nabi seperti di Aceh cukup ke Denmark. Di sini, suasana Maulid Nabi meu-Aceh benar-benar kental.

Pada kesempatan emas ini, saya mendapat banyak informasi dari masyarakat Aceh di Denmark tentang kehidupan mereka dan orang-orang Denmark.

Banyak informasi positif yang saya petik, mulai dari pola pikir dan pola hidup masyarakat, sistem pemerintahan yang baik, petani adalah milioner, biaya hidup rakyat ditanggung pemerintah, peluang dan lapangan kerja bagi masyarakat, sistem sharing penghasilan hingga 38% persen, hingga integrasi pendidikan dimulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK).

Sepertinya, Aceh harus banyak belajar pada Denmark yang sama-sama memiliki populasi penduduk lima juta jiwa, tetapi beda tingkat kesejahteraannya.

Baca: Maulid Nabi meu-Aceh di Denmark

Published on Citizen Reporter Serambi Indonesia

Gampong Aceh Eropa

Read More

Minggu, Januari 10, 2016

Acara ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga mengobati rindu mereka ke Aceh dan transformasi ilmu pengetahuan tentang Rasulullah kepada anak-anak mereka yang lahir dan besar di negeri Eropa yang berpenduduk mayoritas non-Muslim.

Pada hari Maulid dalam cuaca dingin mencapai 5 derajat celcius, lantunan bacaan Barzanji dan puji-pujian telah bersenandung sejak pagi di dalam gedung yang baru direhab tersebut yang disebut “Meunasah Aceh” di Kota Aars, Denmark. Selain di sini, Kota Hjoring juga terdapat “Mesjid Aceh” sebagai wadah perkumpulan masyakarat Aceh yang berjumlah lebih dari 200 orang.

Meunasah Aceh di Denmark berfungsi sebagai tempat shalat berjamaah serta tempat pendidikan dan pengajaran Islam kepada masyarakat Aceh, termasuk anak-anak. Di Kota Aars ini merupakan gedung baru yang disewa secara sumbangsih antar sesama yang dilengkapi beberapa fasilitas lain, seperti ruang kantor, dapur dan ruang-ruang belajar untuk anak-anak.

Sebagaimana di Aceh, semangat Maulid Nabi terlihat dari bacaan Dalae Maulod Nabi dari kitab Syaraful Anam atau lainnya. Meudalae tidak hanya diikuti oleh orang-orang dewasa yang pernah hidup di Aceh, tetapi juga anak-anak mereka yang lahir dan besar di negeri Denmark dan belum pernah merasakan alam Aceh.

Baca: Maulid Nabi Meu-Aceh di Denmark

Published on Citizen Reporter Serambi Indonesia  (07/01/2016)

Meunasah Aceh di Denmark

Read More

Jumat, Januari 08, 2016

Hamburg, 6 November 2015.
Mesjid An-Nour merupakan mesjid yang menggunakan khutbah Jumat dalam bahasa Arab, maka saya lebih menyebutnya Mesjid Arab. Walaupun demikian, jamaah yang hadir tentu saja bukan dari Arab, tetapi juga orang Jerman, orang-orang Eropa dan juga Afrika dan Asia. Hal tersebut cukup mudah untuk mengenalinya, hanya dengan melihat baris jamaah, akan banyak "wajah khusuk"  dari berbagai daerah shalat menghadap sang Khalik.

Mesjid ini tidak terlalu luas, hanya satu lantai. Sedangkan lantai di atasnya digunakan untuk Mesjid Albania. Di lantai bawah untuk parkir mobil. Pada saat mobil tidak terlalu banyak pada hari Jumat, maka digunakan untuk jamaah shalat Jumat. Saya pernah merasakan shalat Jumat di tempat parkir ini bersama dengan jamaah lain, di antara sela-sela mobil yang terparkir rapi. Begitulah perjuangan Muslim di sini yang tidak mendapat tempat cukup untuk beribadah. Namun, seminggu kemudian semuanya berubah.

Jumat selanjutnya, seperti pihak kepolisian menutup tempat shalat di tempat parkir tersebut. Maka, sejak tanggal 13 November 2015, shalat Jumat dilakukan dua gelombang. Gelombang pertama dari jam 12.00-12.45, dan gelombang kedua 13.00-13.45.

Durasi shalat Jumat berjamaah di sini dilakukan tidak terlalu cepat, perkiraan keseluruhannya sekitar 30-40 menit. Dari sebelum azan pertama, jamaah sudah memenuhi mesjid ini. Usai azan, jamaah shalat sunnah qabliyah Jumat. Khatib menaiki mimbar dan mengucapkan salam, kemudian Muazzin mengumandangkan azan kedua. Khutbah disampaikan sepenuhnya dalam bahasa Arab, termasuk nasehat.


Jumat di Arab

Read More

SETIAP tahun menjelang bulan Rabiul Awwal dirayakan hari kelahiran Nabi Muhammad di mayoritas negara-negara muslim, tak terkecuali di masyarakat Aceh, termasuk masyarakat Aceh di Denmark. Mereka telah menetap di negeri Scandinavia ini sejak era konflik GAM-RI di Aceh.

Mayoritas mereka mendapat suaka politik dari Perserikatan Bangsa-bangsa atau UN (United Nations), kemudian berdomisili dan bekerja di negara Eropa.

Melihat kehidupan penduduk di Denmark, termasuk masyarakat Aceh hampir tiada tekanan dari pemerintah atau masyarakat asli, baik dalam bidang politik maupun agama. Maka, ureng-ureng Aceh di Denmark masih menjaga baik tradisi keagamaan sama seperti di Aceh, termasuk maulid (maulod) Nabi.

Pada maulid tahun ini 1437 H (2015-2016), masyarakat Aceh di Denmark mengadakan Maulid Nabi tepat pada 11 tahun gempa-tsunami Aceh, 26 Desember 2015. Saya berkesempatan memberikan tausiyah tentang keteladanan dan hikmah maulid Nabi.

Peringatan Maulid Nabi telah dilaksanakan setiap tahunnya oleh masyarakat Aceh di Denmark, dan menjadi tradisi untuk melaksanakannya seperti di kampung halamannya yang jauh di sana.

Baca: Meunasah Aceh di Denmark

Published on Cititzen Reporter Serambi Indonesia (07/01/2016) 

Maulid Nabi Meu-Aceh di Denmark

Read More

Jumat, Januari 01, 2016

Hamburg merupakan kota kedua terbesar di Jerman, jumlah populasi penduduk beragam dan multi etnis. Orang-orang Turki merupakan imigran Muslim terbesar di wilayah ini. Mayoritas mereka bekerja sebagai pedagang toko dan restoran. Warung-warung makan (restoran) didominasi oleh mereka dengan makanan khas ala Turki. Maka tidak salah, mesjid Turki (disebut demikian karena khutbah Jumat disampaikan dalam bahasa Turki) merupakan salah satu mesjid terbesar di kota perdagangan ini selain mesjid Iran.

Kriteria mesjid besar di sini adalah memiliki kubah dan menara. Dan, untuk ukuran mesjid Turki ini memiliki empat lantai. Lantai ke dua dan ke tiga digunakan shalat berjamaah, dan lantai ke empat difungsikan untuk kaum hawa. Kemungkinan juga untuk anak-anak. Sedangkan lantai dasar untuk kantor mesjid, toko buku/kitab, serta disudut terdapat warung teh alias warung kopi (warkop)

Menjelang waktu Jum'at (musim dingin dimulai jam 12.15 pm), setiap jamaah yang hadir akan melakukan shalat sunnah tahiyat mesjid 4 rakaat. Kemudian menunggu hingga tiba waktunya azan. Disini, azan dikumandang dua kali; pertama saat masuknya waktu Jumat, dan kedua saat khatib telah di atas mimbar.

Azan pertama di kumandang dengan lantang dan tegas, tidak terlalu panjang iramanya. Usai azan, maka muazzin pun membaca doa dan menyeru untuk Shalat Sunnah Qabliyah. Shalat sunnah tersebut dilakukan mayoritas jamaah (didominasi jamaah Turki dan sekitarnya) sebanyak 4 rakaat juga. Pelaksanaan shalat sunnah empat rakaat diutamakan pada siang hari merujuk kepada beberapa hadist Nabi tentang pelaksanaan Shalat Sunnah di siang hari.

Saat khatib naik ke atas mimbar yang memiliki 4 anak tangga, ia membaca do'a di atas membar menghadap kiblat (membelakangi jamaah). Usai membaca doa, ia balikkan badan dan duduk. Sang muazzin pun mengumandangkan azan ke dua yang lebih lembut dan syahdu. Sebelum mengumandangkan azan, maka muazzin membaca "Inna Allah wa malaikatahu yashallu 'ala an-Nabi... dst".

Mimba Jumat mengikuti mesjid Madinah dan Turki, anak tangga terbuka menghadap jamaah, sehingga saat berdiri Khatib di atas mimbar terlihat seutuhnya tubuh Khatib dari kaki hingga kepalanya. Ini mengikuti anjuran Nabi saat naik mimbar menghadap kiblat dan membaca doa di atasnya menghadap kiblat, sebelum berbalik menghadap ke Jamaah. Tidak ada tongkat yang disediakan di atas mimbar.

Khatib Jumat menyampaikan ceramah (maw'izah) dalam bahasa Turki, tidak terlalu lama waktu yang digunakan untuk memberikan nasehat dalam khutbah tersebut, hanya berkisar selama 5-10 menit. Kemudian masuk rukun dua khutbah dan dilaksanakan shalat Jum'at. Usai Jum'at, tidak ada shalat i'adah Jumat atau shalat Zuhur. Di mesjid ini, waktu shalat Jumat termasuk dipercepat jika dibandingkan dengan mesjid-mesjid sekitarnya di Hamburg.

Mimbar Jumat yang digunakan sama seperti mimbar di Madinah atau di mayoritas tempat muslim lainnya, yaitu mimbar terbuka menghadap jamaah, sang khatib akan menaiki mimbar dari arah jamaah, menghadap kiblat. Biasanya akan membaca doa sebelum menaiki mimbar. Itulah fungsi mimbar menghadap kiblat, supaya sang khatib dapat membaca doa sebelum memaling ke jamaah untuk khutbah Jumat. Sang khatib tidak menggunakan tongkat, dan tidak disediakan tongkat di atas mimbar. Mesjid besar di Hamburg ini tergolong indah ornamen dan hiasan di dalamnya, bunga-bunga hiasan di dinding mencerminkan kemegahan Ottoman Turki.

~ Hamburg, 16 Oktober 2015


Jumat di Turki

Read More

Jumat, Desember 18, 2015


Saya bersyukur dapat menemani tamu dari Afrika untuk berangkat shalat Jum'at bersama. Awalnya saya akan pergi sebagai penunjuk jalan, walaupun tergolong baru sebulan di sini, tetapi untuk shalat Jumat tentu saya sudah empat kali melakukan di beberapa mesjid berbeda. Tamu dari benua Afrika tersebut berasal dari Libya dan Aljazair. Sedangkan satu orang lagi sebagai peneliti berasal dari Ghana yang juga meneliti manuksrip-manuskrip di Afrika.

Kehadiran dua tamu tersebut untuk launching hasil proyek "Timbuktu's Manuskrip" di Afrika. Saya sudah mendengar tentang ribuan manuskrip-manuskrip dari Timbuktu dan beberapa wilayah lainnya yang terbakar dan kini diselamatkan oleh lembaga tempat saya menimba ilmu yang bekerjasama dengan beberapa lembaga lainnya. Hasilnya sangat mengejutkan, ribuan manuskrip telah digitalisasi, disimpan dengan baik di Afrika, dibagi perbidang (subject), dan selanjutnya akan menjadi bahan-bahan penelitian bagi peminat manuskrip Afrika dalam bahasa Arab dan bahasa Ammiyah (lokal). Dari keseluruhan diperoleh naskah-naskah bidang tatabahasa (grammar) dan Fiqh (Islamic Jurisprudence) menempati peringkat satu dan dua, tentu berbeda dengan di Indonesia, fiqih di sini didominasi kitab-kitab Fiqih Imam Maliki.

Senarai dengan itu, kami pun dikenali dengan sopir taxi saat mau berangkat ke Mesji Afrika, Nuruddin namanya, berasal dari Ghana dan sudah lama di Hamburg Jerman. Sebagai "asoe lhok" tentu sudah tahu jalan-jalan di Hamburg. Saat perjalanan, saya pun dikenalkan oleh kawan kepada sopir, saat ia tahu saya berasal dai Indonesia, dia langsung membuka hpnya menununjukkan keajaiban seorang anak penghapal al-Qur'an dari Indonesia, ternyata "Musa", anak kecil yang hapal 29 juz saat naik pentas di salah satu televisi di Indonesia. Ia pernah menjadi juara Internasional dan tentunya di Indonesia tahun 2014. Ternyata, Musa kini menjadi ilham bagi anak-anak Afrika di Jerman dan tentunya di Afrika sana, sebab video tersebut tersebut melalu WA dari lingkungan "Afrikiyyin".

Tidak sampai setengah jam, kami tiba di mesjid Afrika, AMA (Afrikan Muslim Association). Seperti biasanya, tidak nampak sebuah mesjid megah, tidak ada menari tinggi nan indah, sepertinya tampak biasa saja. Ini pertama kalinya saya ke mesjid ini.

Saat jam dinding menunjukkan jam 12 siang lebih, kemudian sang khatib muda menuju mimbar, hanya ada tiga anak tangga terbuka menghadap ke jama'ah. Dengan demikian sang khatib berjalan dari depan. Dengan kertas teks kecil di tangan kiri, tanpa tongkat, kemudian ia berceramah dalam bahasa Afrika yang -pastinya- saya tidak pahami. Melihat sekeliling belum banyak jamaah yang hadir walaupun kapasitas mesjid hanya mampu diisi sekitar seratusan jama'ah.

Dua puluh menit kemudian, Azan berkumandang, muazzin adalah sopir taxi yang kini berubah kostumnya, usai azan sebagian jamaah shalat dan sang khatib mulai membaca khutbah, kali ini dengan bahasa Arab, uniknya berdiri seorang lagi yang lain sebagai penerjemah di shaf paling depan menghadap jamaah yang menerjemahkan perkataan khatib ke dalam bahasa Jerman. Jamaah mulai memenuhi mesjid, yang awalnya perkiraan saya hanya diisi oleh komunitas Afrika, ternyata banyak juga hadir muslim kulit putih.

Terlebih dari itu, bagi saya, hadirnya sang penerjemah menjadi menarik, sebab dalam jamaah Jumat tersebut hadir wajah-wajah orang Eropa yang tak lain (kemungkinan besar) adalah orang Jerman. Di sinilah fungsi nasehat khutbah Jum'at untuk dapat dipahami dan diamalkan oleh para jamaah, walaupun memakan waktu yang lama tetapi, pesan-pesan kepada jamaah dapat terealisasi. Dengan tersampainya pesan-pesan dalam Jumat tersebut tentu persaudaraan dapat dibangun walaupun berbeda bangsa, kulit dan bahasa.

Shalat Jum'at dilaksanakan sekitar jam 1.20 pm, itu artinya hampir satu jam setengah kami mendengar khutbah dalam tiga bahasa -Afrika, Arab dan Jerman-. Padahal saat musim dingin, waktu shalat Ashar sekitar jam 2 pm (14.00). Namun kami harus mengantar tamu ke hotel yang sudah mulai terasa lapar. (Hamburg, Jumat, 13 November 2015)

Jumat di Afrika

Read More

Selasa, Desember 15, 2015


Sejauh ini, saya hanya menemukan di Staindamm, Hamburg (Jerman) yang memiliki satu gedung dalam satu (blok) memiliki tiga mesjid (Jerman: Moscheen), tiga jamaah Jum'at yang berbeda Imam dan khatib. Masyarakat sering menyebut Moschee (Mesjid) Arab, Mesjid Albania dan Mesjid Pakistan. Dinamakan demikian karena sang khatib berceramah dengan bahasa Arab, Albania, dan Pakistan.

Mesjid Arab berdampingan pintu dengan mesjid Albania, hanya saja, para jamaah di Mesjid Arab shalat di lantai dasar, sedangkan di mesjid Albania jamaahnya shalat di lantai satu. Sejajar dengan mesjid Pakistan yang terpisah beberapa blok pintu untuk shalat kaum hawa. 

Setiap Jum'at akan ada polisi yang menjaga di depan halaman mesjid, awalnya saya kira pengawasan seperti WH di Aceh yang mengawasi warung-warung kopi, ternyata mereka menertibkan mobil-mobil yang lalu lalang dari arah tersebut saat akan dimulai Jum'at dan saat selesai.

Shalat Jumat di ketiga mesjid tidak terkesan "saling lomba" satu dengan lainnya. Sejak dimulai dan hingga selesai proses shalat Jumat hampir berbarengan dan seiring. Di hari berbeda, saya "menggilir" shalat Jumat di ketiga mesjid ini, tidak ada proses yang berbeda, mimbar Jum'at terbuka ke depan, hanya ada sekitar 3-5 anak tangga, sang khatib yang akan naik ke mimbar harus dari arah jamaah, tidak ada tongkat dan semua rukun dua khutbah dengan bahasa Arab. Hingga selesainya pun bersamaan dengan mesjid lainnya. 

Saya terharu saat selesai shalat Jum'at, melihat para jamaah berbaur sapa bersama antara satu mesjid dengan mesjid lainnya, mereka saling tegur sapa, -mungkin karena satu bangsa, satu bahasa- atau setidaknya sudah saling kenal. Tidak ada klaim shalat Jumat diantara mereka paling afdhal dan diterima disisi Allah. Persaudaraan itu jelas terlihat saat usai Jum'at, setiap jamaah memilih Jumat yang dipercayai lebih baik dan mudah, tanpa mendiskriminasi pihak-pihak lainnya. Memang, bagi saya, wilayah staindamn adalah sentral umat Islam di Hamburg. Di sini, mesjid akan berjejer walaupun tidak ada tiang mesjid dan halaman yang luas, tidak ada azan yang terdengar keluar, tetapi persaudaraan cukup melekat sesama muslim. 

Staindamm, Satu Gedung Tiga Mesjid di Jerman

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top